Latest Entries »

FOTO 3





        Saat memasuki bagian hidup manusia dewasa, secara naluriah kita akan mencari kesenangan dan kenikmatan seksual. Tubuh masing-masing individu berbeda, pemicu rangsangan dan kenikmatan dalam tubuh kita berbeda, dan preferensi kita pun berbeda.Sebagian wanita senang dengan sentuhan di payudaranya, namun sebagian lainnya tidak. Jadi sangat jelaslah bahwa semua saran yang ditawarkan pasti akan diterima dengan sudut pandang pribadi masing-masing individu.

       Rekan wanita pasti memiliki ide-ide sendiri, sehingga saya tidak mungkin memaksa anda jika anda tidak senang dengan apa yang saya senangi. Really, it’s very personal!. Rekan pria, don’t talk to her breasts, but talk to her about them. Katakan pada pasangan cinta anda bahwa ukuran payudaranya oke oke saja – terlepas apa yang anda katakan bohong atau tidak, semua bergantung ketulusan cinta anda yang selalu ingin membahagiakan pasangan :)

       Anyway, kualitas payudara bagi wanita sebenarnya sangatlah bernilai. Mungkin kalau dibandingkan secara ekstrem setara dengan agama. Sangat sensitif jika dibicarakan dengan tidak sopan atau menyinggung perasaan.Jika anda benar mencintai dia (dan ini sangat penting),  tentulah anda akan senantiasa menghargainya dengan sangat tinggi. Ungkapan bahwa tubuh pasangan mampu membuat anda “melayang” akan memberi rasa puas dan kebahagiaan yang mendalam dalam dirinya.

Jangan pelit untuk memberikan pujian, seperti betapa lembut kulit payudaranya. Atau bagaimana anda begitu gemas dengan payudaranya hingga anda selalu ingin menciuminya. Itu semua akan membantu si dia masuk dalam satu kondisi yang akan membuatnya merasa rileks dan nyaman tentang tubuhnya. Saat masuk ke aktivitas seksual, satu peraturan bagus dan selalu saya pegang bersama suami adalah tidak percaya pada pronografi.

A good rule to remember is not to believe pornography. Pornografi  hanya akan membawa pria mencari kepuasan sendiri dan tidak memberikan ide hebat apa yang sebenarnya diinginkan dan disukai pasangannya. Percayalah pada saya tentang hal itu.

Selama melakukan foreplay, berikan perhatian pada payudaranya, ungkapkan kasih sayang anda hingga situasi menjadi semakin intim. Jangan cepat-cepat untuk bergerak ke bawah. Sungguh, wanita sangat suka dengan sentuhan dan rangsangan di payudara.

Banyak wanita mengatakan bahwa payudaranya sangat cepat dalam merespon rangsangan seksual, hingga keduanya ereksi. Dan seperti saya tulis dalam artikel sebelumnya, jika wanita telah terangsang, meski diberikan remasan, gigitan, juga hisapan yang keras ke payudaranya, tidak akan terasa sakit.

Tapi ingat, itu bisa anda lakukan jika pasangan telah terangsang, jadi tidak boleh langsung menyerang dengan ganas. It’s too painful! Wanita senang dengan permainan yang dimulai dengan sentuhan dan remasan lembut. Semakin lama boleh anda tambah kuat remasannya.

“I love to have my breasts caressed and cradled in my lover’s hands, and to have him kiss them”, begitulah banyak wanita bilang.

Kontak mulut ke payudara akan menjadi momen hebat, tapi sekali lagi, anda harus sabar (meski pasangan anda telah terangsang, jangan kemudian anda menjadi kasar). Buat pasangan anda meminta dan meminta. Lingkari dan lingkari lagi putingnya dengan lidah anda, kemudian dengan lembut hisap putingnya, selingi dengan remasan lembut di kedua payudaranya dengan kedua tangan anda. Tapi ingat, kembali anda hisap putingnya. Saya jamin anda mampu mengendalikannya. Pasangan anda pun bahagia menerima ungkapan kasih sayang yang anda berikan.

Sungguh, soal memberikan kepuasan seksual merupakan hal yang tidak mudah. Semua berjalan sebagai respon dan pembelajaran. Jadi anda harus sabar, rajin mempraktekkan, harus ada kemauan untuk belajar (hal-hal terkait dengan seks juga wajib dipelajari, lho?!), dan di atas segalanya, hal terpenting adalah komunikasi.Dan memang itulah yang menjadi komitmen saya dengan suami.

“How to bring happiness into marriage? Nothing but a good communication!,” demikian kata suami saya.

Maka saran saya, eksplorasilah apa yang menjadi kesenangan anda berdua dan komunikasikanlah apa yang sesungguhnya anda senangi dan inginkan. Dan…komuniikasikanlah bagaimana anda berdua ingin disentuh.  Memang menjadi absurd, menjadi tidak jelas, jika anda berpikir anda tahu semuanya hanya dengan intuisi. Dengan lembut katakan apa yang anda ingin dia lakukan untuk anda. Saya yakin pasangan anda akan mendengar dan melakukan apa yang anda inginkan.

Satu hal yang anda perlu tahu bahwa banyak wanita merasa tabu untuk mengatakan apa yang dia senangi. Jadi, andalah yang wajib mencari tahu, dengan cara apa pasangan anda ingin disentuh. Pada akhirnya anda berdua saling mengetahui apa yang anda butuhkan.

Uiih…! Kali ini saya menulis artikel benar-benar dari sudut pandang seorang wanita (tentunya yang telah menikah). Saya memang sering dimintai pendapat oleh teman-teman saya terkait kehidupan rumah tangga mereka. Salah satu yang paling banyak ditanyakan adalah apa yang saya tuliskan kali ini.

Semoga dengan membaca tulisan ini, hanya kebahagiaan dan keharmonisan yang senantiasa akan anda dapatkan bersama pasangan, seperti saya :)


Rekan semua, seperti kita ketahui bersama bahwa payudara khususnya daerah areola dan puting merupakan satu zona erotis wanita yang menjadi pusat aksi saat bercinta. Puting akan ereksi dan strum sensasi kenikmatan dan erotisme mengalir kencang ke seluruh tubuh. Bbrrr…!

Puting memiliki banyak syaraf dan sangat sensitive. Sebagian wanita dapat mencapai orgasme hanya dengan rangsangan tunggal di payudaranya. Saat seorang wanita melakukan masturbasi, payudara dirangsang untuk menimbulkan rasa erotis hingga orgasme tercapai.

Metode atau Cara Merangsang Payudara yang Umum Dikenal

(Catatan: Mohon dimaknai sebagai pengetahuan dan bukan pornografi)

Perlu rekan semua ketahui bahwa tidak semua wanita menyukai rangsangan payudara. Karena sebagian wanita memiliki puting yang sangat sensitive, sebagian lain justru tidak sensitive sama sekali.

Ok? Get ready and go…!

1. Nipple tweaking

Menggosok puting diantara ibu jari dan jari telunjuk.
Menggosok dan menjewer puting diantara ibu jari dan jari telunjuk.

2. Nipple licking

Memberi rangsangan ke puting dengan menjilat.
Memberi rangsangan ke puting dengan menjilat.

3. Pulling nipple

Rangsangan manual dengan menarik puting.
Rangsangan manual dengan menarik puting.

4. Suck nipples

Menghisap puting untuk mendapatkan sensasi erotis bersama pasangan.
Menghisap puting untuk mendapatkan sensasi erotis bersama pasangan.

5. Suck on her own boobs

Menghisap payudara sendiri saat masturbasi.
Menghisap payudara sendiri saat masturbasi.

6. Nipple pump

Memberi tekanan lembut utnuk membuat puting ereksi.
Memberi tekanan lembut utnuk membuat puting ereksi.

7. Nipple rings

Memasang cincin untuk mempertahankan puting tetap ereksi.
Memasang cincin untuk mempertahankan puting tetap ereksi.

8. Nipple clamps atau nipple chain

Menggunakan sex-toy untuk meremas puting.
Menggunakan sex-toy untuk meremas puting.

9. Nipple clothespins

Menggunakan  sex-toy  seperti penjepit jemuran untuk meremas puting.
Menggunakan sex-toy seperti penjepit jemuran untuk meremas puting.

10. Tied nipples

Mengikat puting saat ereksi. Disebut juga dengan Nipple Bondage.
Mengikat puting saat ereksi. Disebut juga dengan Nipple Bondage.

11. Tuning in Tokyo

Kursi juga dapat dipakai utuk merangsang payudara. Hee??
Kursi juga dapat dipakai utuk merangsang payudara. Hee??

12. Tug

Tipe rangsangan puting yang umum dilakukan dengan sentuhan lembut.
Tipe rangsangan puting yang umum dilakukan dengan sentuhan lembut.

13. Nipple battle

Puting vs puting. Wah seru donk!
Puting vs puting. Wah seru donk!

14. Ice nipples

Sensasi dengin membuat puting ereksi.
Sensasi dengin membuat puting ereksi.

Weleh weleh…! Ada yang normal tapi ada juga yang menurut saya… so weird!

Perhatian:

  • Rangsangan yang diberikan ke puting payudara akan membuat payudara melepaskan hormone yang disebut oxytocin, yang bertanggungjawab pada refleks keluarnya ASI saat awal seorang wanita menyusui (oxytocin menyebabkan ASI mengalir di dalam payudara dan keluar dari lubang puting saat dihisap bayi).
  • Rangsangan seksual yang diberikan pada puting payudara secara intensif (katakan 4 kali seminggu atau lebih) akan memicu payudara wanita memproduksi ASI meski wanita tersebut tidak sedang hamil atau menyusui. Meski memang benar terjadi, rekan semua tidak perlu khawatir karena untuk terjadi demikian perlu rangsangan yang hebat. Di samping itu untuk memproduksi ASI payudara juga perlu hormone yang bernama prolactyn.
  • Secara tipikal rangsangan yang berlebihan pada puting payudara justru akan membuat puting bengkak dan sakit.

Rekan semua, saya merasa beruntung memiliki banyak teman dari banyak negara. Salah satunya adalah Penelope Garcia, teman yang saya temui saat saya menjadi peserta Konferensi International Arsitektur dan Lingkungan di Granada, Spanyol tahun lalu. Seminggu yang lalu dia mengirimkan email tentang Playing Breast During Foreplay.

“You must practice it! Believe me very exciting!” demikian tulisnya dalam email.  Saya membalasnya, “It will be better if I post it in my blog, so many friends of mine also will know that there is an art in playing breasts.”

Anda tentu panasaran khan? Yuk kita simak bersama kiriman tulisan dari jauh ini…

Catatan: Yang boleh praktek hanya yang telah menikah. Jika belum, simpan isi tulisan ini sebagai pengetahuan dan persiapan.

Ah, payudara! Sungguh ciptaan yang sangat cantik dan erotis! Payudara tercipta dengan sempurna untuk membawa si empunya juga pasangan cintanya melayang nikmat dalam kebahagiaan, saat payudara “dimainkan” atau kalau saya bilang “disayang”.

Rekan pria, tips berikut ini akan mengajarkan anda bagaimana menyenangkan pasangan anda saat anda memainkan payudaranya, khususnya saat mengawali momen hubungan intim (foreplay).

Rekan wanita, sensitivitas dan rasa nikmat yang menjalar sekujur tubuh akan membuat anda semakin terlihat manja dan menggemaskan.Heemmmm….! (Makin penasaran aja nich! Cepetan donk!)

1. Beri Sentuhan Menerus ke Payudara
Sama dengan variasi bentuk dan ukuran payudara, terdapat juga variasi dalam permainan sex yang tiap-tiap pasangan sukai. Sebagian wanita senang ketika dirangsang dengan sangat hebat, sebagian lain lebih senang dengan sentuhan-sentuhan ringan dan lembut.

Penting untuk diingat: mainkan payudara secara simetris.

“Penelope, what did you mean with be symmetrical?, “Yeah, either play with both breasts at one time or give them both equal time. Otherwise one breast will feel neglected, which can be a distinct turn-off.”

“Oh my God! That’s the secret!

Payudara harus dimainkan secara bersama atau dengan lama waktu yang sama agar “tidak jealous” . Wah wah…jangan sampai si payudara satunya merasa diabaikan. Akibatnya gairah bercinta bisa padam. (Gawat!!!)

Rekan pria, ini dia tips rahasianya. Ssssttt…!

  1. Mulailah dengan menyentuh dan meremas payudara dengan perlahan dan lembut. Dengan menyentuhkan telapak tangan secara terbuka ke seluruh area payudara. Cara ini cukup manjur untuk mengetahui kondisi payudara pasangan anda. Tapi yang pasti, memberikan kenikmatan padanya. Gunakan waktu anda saat itu untuk juga menikmati “rasa-rasa aneh” yang anda rasakan. Boleh anda gunakan minyak esensial untuk memijat agar gerakan anda lebih smooth, licin, dan hangat.
  2. Lanjutkan dengan gerakan yang ritmis, berirama. Ulangi gerakan anda beberapa kali secara konsisten. Jika anda melakukan gerakan searah jarum jam, lakukan itu di kedua payudara. Atau coba gerakan ini: letakkan telapak tangan ke payudara dengan pusat telapak tangan tepat di putting dan areola. Gerakkan jari-jari tangan dengan gerakan memutar, kemudian gerakkan jari-jari ke arah puting dan akhiri dengan gerakan cubitan nakal ke putting. Ulangi beberapa kali. Ditanggung pasangan anda akan sangat senang dengan apa yang anda lakukan :)
  3. Cermati bahasa tubuh pasangan anda.  Bertahan dan terus berikan perhatian pada suara dan gerak tubuhnya. Dari sini anda dapat mengetahui seberapa besar rangsangan yang anda berikan mampu memberikan kenikmatan pada pasangan anda. Anda dapat lakukan gerakan lain yang anda nilai pas dengan momen tersebut.
  4. Jangan menduga, bertanyalah! Jangan ragu untuk bertanya pada pasangan anda, apakah yang anda lakukan “enak” menurut dia. Bertanyalah seperti: “ Sayang, lebih suka remasan lembut atau lebih kuat?”. Penting bagi anda untuk mengetahuinya agar acara ranjang anda tetap “HOT!”

2. Enak Juga Untuk Dimakan
Payudara begitu lezat, hingga anda selalu ingin memasukkannya ke mulut anda. Sekali anda telah “berkenalan” dengan payudara pasangan melalui sentuhan tangan, suasanapun menjadi hangat dan basah. Ya, saya menyebutnya oral loving. Mulailah mengeksplor payudara pasangan dengan mulut anda…

  1. Mulailah dengan jilatan kecil di sekitar areola, lihat antisipasi yang diberikan pasangan anda. Kemudian perlahan bergeraklah menuju puting.
  2. Secara bertahap ubahlah gerakan mulut dari menjilat ke menghisap – hmm, yummy!
  3. Eksperimen dengan gigitan-gitan kecil yang nakal. Jika pasangan anda telah ‘turn-on” biasanya akan meminta hisapan yang lebih kuat dan atau diselingi gigitan.
  4. Hembuskan nafas anda ke puting. Buat pasangan tesenyum. Kembali anda hisap dan gigit payudaranya. Sayang, geli akh…!
  5. Dalam waktu yang sama! Saat mulut anda menikmati satu payudara, jangan abaikan payudara satunya. Gerakkan tangan anda untuk menggodanya. Dengan “menyayang” payudara pasangan dengan mulut anda, dia akan tahu bahwa payudaranya “memang enak untuk anda makan.”

Wah, detil banget tipsnya,  Saya sungguh berharap dengan tulisan ini kehidupan cinta rekan semua (sekali lagi yang telah menikah) semakin membahagiakan.

“El amor será más entusiasta!”
“Cintamu akan semakin bergairah!”, begitu Penelope teman saya bilang.
“Gracias, amigo!”, jawab saya
Memang, payudara wanita bagi rekan pria merupakan sesuatu yang selalu bikin penasaran untuk diketahui…dirasakan…dimainkan …dan… dinikmati…Tanpa berpanjang-panjang lagi, Ayo kita lanjutkan!

3. Permainan Ekstra Sensorik
Rekan pria, kreativitas merupakan kunci sukses anda dalam menggugah gairah bercinta pasangan. Dan…gawatnya, ibarat seniman, payudara pasangan merupakan kanvas ideal untuk menuangkan ide-ide kreatif anda. Pada permainan ekstra sensorik ini anda akan membutuhkan beberapa alat pendukung:

a. Bermain geli-gelian.Goda payudara dan puting pasangan dengan mainan yang berbulu-bulu, Sentuhan yang sangat lembut dari bulu akan membuat pasangan sangat senang. Apalagi kalau anda memasangkan blindfold (kain penutupp mata). Sentuhan yang tiba-tiba, tanpa dia ketahui sungguh merupakan rangsangan yang hebat. Dia akan minta ampun kegelian yang justru membuat anda lebih gemas untuk menggodanya.

b. Bermain panas-dingin. Tuangkan sedikit minyak pijat yang menghangatkan di payudara pasangan. Pijatlah dengan perlahan dan lembut. Percayalah, si dia akan mendapatkan pengalaman erotik yang hebat. O iya,  anda juga dapat bermain di temperatur rendah. Usapkan es di puting payudaranya. Bibirnya pasti berbisik, aah….eehh… Dinginnya es ternyata mampu menyengat syaraf puting payudara sampai ke sekujur tubuhnya. Putingnya pun segera ereksi dan mengeras. Pakai ice-cream juga oke, segera setelah anda oleskan ice-creamnya, nikmati payudara with ice-cream topping! Hmmm…very delicious!

c. Bermain rasa buah dan cokelat. Anda dapat berikan krim cinta (love cream) ke area dan puting payudara pasangan. Jangan banyak-banyak, nanti malah belepetan. Setelah itu mulailah anda jilati payudara pasangan. Sruup…strawberry, chocolate, grape, mixed fruit! Terserah anda.  Atau kalo tidak ada krim cinta, boleh dicoba, selai roti (ambil dulu di meja makan, donk?!)

4. Permainan Mendandani Payudara
Rekan pria, jika payudara dibawa ke ranah fesyen, pastilah payudara senang menjadi Si Bola-bola Cantik. Nah…penjepit payudara (sex toy) merupakan satu permainan yang dapat dipakai saat bermain”dandan-dandanan” dengan obyek payudara pasangan.

Jepitan dan tekanan yang diterima puting akan memberikan pengalaman sensasional. Perlu anda ketahui bahwa saat tubuh kita terangsang (pria dan wanita), maka tubuh akan lebih mampu menahan rasa sakit.  Puting sebagai contohnya – banyak wanita yang meminta pasangannya untuk memencet atau menghisap putingnya dengan sangat kuat saat mereka benar-benar telah “turn-on” dan siap berhubungan intim.

Nah, tuntas sudah empat tips permainan payudara yang dapat rekan pria berikan kepada pasangan. Mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi, agar kehidupan anda berdua makin saling membahagiakan.

Boleh lho, untuk dimodifikasi… :)


Rekan wanita, tidak dapat disangkal bahwa penampilan payudara merupakan hal yang selalu menjadi pemikiran kita. Memiliki payudara kencang, indah, sehat, dan seksi adalah impian para wanita.

Artikel kali ini berisi tips kecantikan khususnya kecantikan payudara. Berikut ini adalah tips cara mengencangkan payudara alami, sehat dan dijamin tidak menimbulkan efek samping. Yuuk kita simak bersama…

Satu : Mengencangkan Payudara dengan Olah Raga

Untuk menyehatkan tubuh, diperlukan latihan secara rutin, agar peredaran darah lancar hingga ke bagian tubuh yang paling kecil. Begitu juga dengan payudara, dibutuhkan olahraga atau senam yang merangsang perbaikan payudara dan otot-otot pektoralis mayor dan minor sebagai penggantung payudara. Dengan lancarnya aliran darah juga kencangnya otot penggantung payudara ini, payudara akan menjadi lebih bugar, kencang dan terangkat.

Di samping itu, banyak pakar kesehatan dari Amerika menulis, bahwa satu-satunya cara alami yang dapat dilakukan wanita untuk membesarkan payudaranya adalah dengan latihan atau berolah raga. Latihan yang bagaimana?

Latihan yang dapat merangsang pembesaran otot-otot pektoralis. Dengan berkembang dan membesarkan otot ini, secara otomatis akan menambah ukuran payudara.

Dua : Mengencangkan Payudara dengan Pepaya

Sejak zaman dahulu kala, pepaya muda sudah digunakan untuk mengencangkan payudara, enzim yang terdapat dalam pepaya sangat membantu dalam pertumbuhan payudara. Sementara itu hormon pengencang dan vitamin A dalam enzim pepaya, diyakini akan merangsang pengeluaran hormon wanita, selain itu dapat merangsang indung telur agar mengeluarkan hormon kewanitaan (estrogen, progesterone, dan prolaktin), melancarkan kelenjar susu dan tentu saja mengencangkan payudara.

Cara membuat : Potong pepaya mengkal, ambil kira-kira satu mangkok, kemudian dibuat menjadi juice dengan campuran susu kedelai. Kandungan phyto-estrogen kedelai sangat baik untuk payudara. Setelah itu beri sedikit perasan jeruk nipis dan satu atau dua sendok makan madu. Minum secara teratur dua hari sekali.

Tiga : Mengencangkan Payudara dengan Masker Payudara

Masker payudara ini dibuat dari bahan tepung beras atau Amylum Oryzae. Inti tepung beras ini bermanfaat untuk mengencangkan payudara, menghaluskan kulit, dan memperindah bentuk payudara serta memperlambat penuaan dini.

Berikut ini urutan saat anda melakukan masker payudara:

  1. Berbaringlah rileks dengan posisi telentang.
  2. Bersihkan payudara dengan handuk yang sebelumnya sudah direndam dalam air hangat.
  3. Usap lembut kulit pembungkus payudara dan keringkan.
  4. Sebelum anda masker, dapat anda oleskan minyak bulus sambil melakukan piijatan pada payudara,  lakukan secara perlahan selama sekitar 10 hingga 15 menit.
  5. Bersihkan payudara dengan handuk basah lalu keringkan.
  6. Tutup puting susu dengan kapas basah.
  7. Dengan menggunakan kuas, oleskan masker tepung beras yang sudah dicampur air mawar secara merata pada payudara. Biarkan selama 10-15 menit atau sampai mengering.
  8. Bilas payudara dengan air hangat hingga bersih, kemudian kompreslah dengan es. Beri tepukan lembut pada payudara dengan kapas yang telah dibasahi penyegar.

Agar hasil maksimal, maskerlah payudara anda seminggu sekali, berturut-turut, selama 10 minggu.

O iya, sebagai warisan nenek moyang, khasiat minyak bulus juga dipercaya mampu merangsang pembesaran payudara secara alami.

Nah, kini anda telah mendapatkan tiga cara mudah untuk memperoleh penampilan payudara yang lebih sehat, kencang, dan menawan…  :)

Selamat mencoba,


Rekan pembaca, anda tentu sering mendengar dan melihat iklan minuman dengan key-words “mengadung sari buah pomegranate”.Buah yang  di Indonesia dikenal sebagai buah delima tersebut, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa untuk kesehatan wanita, lho?!.

Buah delima kini makin populer karena khasiatnya yang menguntungkan bagi kesehatan. Selain baik untuk jantung, buah delima ternyata juga efektif untuk melawan kanker payudara.

Bagaimana buah ini bekerja menangkal kanker payudara? Berikut uraian singkatnya…

Hasil tes di laboratorium menunjukkan bahwa delima (pomegranate) mengandung senyawa kimia yang mampu mengurangi risiko terbentuknya hormon yang menyebabkan kanker payudara.

Buah yang rasanya segar dan manis ini mengandung fitokimia dan tinggi kandungan polifenol antioksidan. Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim yang berkaitan dengan perkembangan estrogen.Kanker payudara sangat dipengaruhi hormon estrogen. Jika seorang perempuan sudah tidak lagi memproduksi hormon estrogen, maka risiko terkena kanker payudara akan menurun.

“Kami cukup terkejut oleh hasil riset kami. Sebelumnya kami menemukan buah-buahan lain, seperti anggur, mampu bekerja sebagai penghambat enzim. Namun, fitokimia pada buah delima dan anggur ternyata berbeda,” kata Shuan Chen, Ketua Peneliti dari Breast Cancer Research Program di City of Hope, California, AS.

Meski demikian, para peneliti belum bisa memastikan jumlah dosis yang efektif untuk mencegah kanker payudara mengingat senyawa kimia yang berasal dari makanan tidak mudah diserap.

Namun, para ahli mengatakan tak ada salahnya mengonsumsi minuman sari buah delima, apalagi kandungan antioksidan dalam satu gelas delima lebih banyak dibanding dengan satu gelas red wine, teh hijau, atau orange juice. “Selain mencegah perkembangan kanker payudara, sari buah delima juga akan melindungi organ dan jaringan tubuh lainnya,” kata Chen.

Hmmm…semakin banyak alternative untuk membuat payudara semakin sehat, nich!

Sumber : http://www.dechacare.com

Dahlia Dark








Putri Ibu Kost

“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob…”
Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.
“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang, kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.

Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas ‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.
“He… masa?” balasku.
“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he…
“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai belum datang?”

Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?

“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian… Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”
“Kak Dai kan tidak akan tahu…”
Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.
Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’
Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok…
Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.
“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.
“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.
“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?”
“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”
“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”
“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.
Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.
“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.
“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.
“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”
“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.

“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.

Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.

“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.

“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.
“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.

Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.
“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.
“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.

lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.

“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.
“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.

Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.

“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.
“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Ika… puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.
“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.
Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.
“Aduh mas Booo… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya.
“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.
Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya.

“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas… shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!

“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.

“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.

Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.
“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh… sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk… Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

“Ah-ah-ah-ah-ah…”
Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-¬beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob …!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.
“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.
“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”
Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.
“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas¬remas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang kontholku.
“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu binahi.
Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.
“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.
Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya

dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.
“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob…”
Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.
“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.
Aku menghentikan gerak masuk kontholku.
“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.
“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas Bob…”
Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Ika.
Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.
Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.
“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku
“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Ika.

Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh… sssh… terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja… aku sedang tidak subur…”
Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.
“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas¬-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”
“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”
Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.
“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya hampir keluar nih mas Bob…
sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.

“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.
“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:
“…keluarrr…!”
Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.
Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti
dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.
“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.
“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai mendesis-desis lagi.
Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.
“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,
“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”
Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:
“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:
“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”
“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak! Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.
“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak.

“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.
“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak sekali,” kata Ika lirih.
Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.
Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.
“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata Ika.

Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.


Bercinta dengan Tita “toge”

“Aaahhhhh…….ssshhhh…bert…isep yang kuat sayang…” rintih tita manja sambil menggeliatkan tubuh seksinya, sementara tangannya ngeremas2 rambut gue. gue jadi makin nafsu dengar rintihan tita, gue isep lebih kuat lagi toketnya sambil gue sedot i rasakannya. “ooouuhhh…..terus isep lebih kuat sayang…sedot toket gue bert…ahhh….” Pinta tita lirih sambil menekan kepala gue kencang banget ke toketnya.
Gue masih asik nyedotin toket tita, sementara tangan kanan gue mulai ngelus2 memeknya yang masih ketutup ama celana dalam tipis yang udah basah kuyup ama lendir kenikmatan yang keluar dari memeknya. Pelan2 gue masukin tangan gue ke dalam celana dalamnya trus gue mainin jari gue di belahan memeknya yang udah becek banget sambil gue sodok2 dengan lembut. Tita langsung mengejang waktu memeknya gue korek2 pake jari telunjuk gue. “aaauuuhhh…geli bert…nakal banget sih lo…” tita merengek manja sambil ngelus2 rambut gue dengan mesra. Badannya yang seksi itu udah basah oleh keringat sehingga jadi keliatan mengkilat en bikin gue jadi tambah horny.

Nama gue Albert (samaran), saat ini gue kerja sambil kuliah. Gue mau cerita tentang pengalaman gue ngeseks di tempat gue kerja. Gue punya temen kerja cewek di bagian adm, namanya tita. Umurnya baru 20 tahun en dia belum punya pacar. Tita ini wajahnya sih biasa2 aja, tapi tubuhnya langsing en padat berisi. Kulitnya mulus kuning langsat en tinggi badannya juga sedang2 aja. Tapi yang bikin gue horny kalo ngeliat dia adalah karena dia punya sepasang toket yang gede en montok, trus juga pantatnya yang bulat en kencang. Apalagi dia selalu pake baju kerja yang ketat en bahannya agak tipis, otomatis branya tercetak jelas en toketnya keliatan makin montok, malah kadang2 putingnya samar2 menonjol di balik branya yang selalu pake model tali kecil itu. Gue selalu ngebayangin pasti enak banget kalo gue bisa ngemut toketnya yang montok itu.

Hari itu hari jumat, pas jam 12 siang semua karyawan keluar makan sehingga suasana di tempat kerja gue jadi sepi banget. Gue sendiri ngak begitu laper jadinya ya ngak keluar makan en main game aja di computer. Tita juga keliatannya lagi sibuk ama kerjaannya jadinya ampe lupa makan. Hari itu dia kerja pake baju kemeja ketat lengan pendek warna biru muda en celana kain tipis warna putih. Gue bisa ngeliat dengan jelas toketnya menyesaki branya yang berwarna hitam en kayaknya kekecilan buat ngebungkus toketnya yang montok itu. Ngeliat situasi yang mendukung pelan2 gue deketin tita dari belakang kursinya. Dengan tiba2 gue langsung meluk dia dengan erat dari belakang sehingga dia terkejut. “Albert…lo apa2an sih?!” omelnya tapi sepertinya dia ngak ada usaha buat ngelepasin diri dari pelukan gue. Gue ngak ngejawab tapi langsung nyiumin wajah en leher sampingnya yang mulus, sementara tangan gue yang meluk perutnya pelan2 naik ke toketnya trus mulai gue elus2 sambil gue remas2 toketnya yang terasa lembut en kenyal itu. “ahh…albert jangan..ntar kalo ada yang liat gimana?” desahnya pelan. Kayaknya tita udah mulai terangsang. Gue pikir emank bahaya juga kalo maen di ruang kerja, akhirnya gue ajak dia ke toilet cewek. Kebetulan dia satu2nya cewek yang kerja di situ, jadi ya ga mungkin ada orang lain yang masuk ke toilet cewek. Begitu udah di dalam gue langsung peluk dia dari belakang sambil gue tempelin en gue gesek2in ****** gue yang udah mulai tegang ke pantatnya yang hangat en empuk. “Ihh…Albert apaan tuh yang nempel di pantat gue?” rengeknya manja sambil nyandarin kepalanya di dada gue. Wah…ngeliat sikapnya gue jadi makin horny, apalagi wangi parfumnya agak merangsang gitu gue jadi makin ngak tahan. Langsung aja gue ciumin wajahnya trus bibirnya gue lumatin sambil gue mainin lidah gue di mulutnya. Tita tadinya Cuma diem aja tapi lama2 mulai bales mainin lidahnya juga di mulut gue. Akhirnya kita ciuman dengan penuh nafsu, gue gigit2 lembut bibirnya sambil gue emutin.. ”aahhh…enak bert..” desah tita pelan sambil senyum malu2 ama gue. Wah…gue jadi makin gemes aja ama sikap manjanya itu. Pelan2 ciuman gue turun ke lehernya yang mulus terawat, gue jilatin lehernya trus gue cupangin dengan lembut ampe basah en merah2, sementara kedua tangan gue juga beraksi ngeremas2 toketnya yang menggemaskan itu. “Uuhhh…terus bert..lebih kuat remasnya sayang…” pinta tita manja ama gue. gue turutin permintaannya sambil pelan2 gue buka kancing kemejanya ampe akhirnya gue berhasil lepasin kemejanya dari tubuh mulusnya. Gue sendiri juga ngelepasin baju seragam kerja gue trus langsung aja gue peluk lagi tita dari belakang. Hmm…kulit punggung tita terasa halus en hangat banget di dada gue. “hmmm…..bert…emut bibir gue lagi sayang….” Pinta tita sambil deketin bibirnya ke bibir gue. langsung aja gue lumatin lagi bibirnya yang merah en lembut itu, gue isep2 lidahnya en dia juga bales ngisepin lidah gue. sambil ciuman tangan gue pelan2 nurunin risleting celana tita trus langsung gue perosotin celana panjangnya yang tipis en ketat itu. wah…ternyata tita pake celana dalam warna pink yang modelnya kecil en seksi banget, dah gitu bahannya tipis en licin trus transparan pula. Gue jadi makin nafsu ngeliat tita pake celana dalam yang modelnya imut gitu. “ahhh….bert elo nakal banget deh..” kata tita sambil berusaha nutupin memeknya yang samar2 keliatan dari balik celana dalamnya yang udah basah itu.putingnya kuat2, trus gue lumatin en gue cupangin toket tita yang benar2 empuk ampe gadis itu menjerit pelan karena menahan kenikmatan yang baru pernah d Gue senyum aja ama dia trus langsung gue pepet dia ke tembok. “sayang…gue pengen ngemut toket lo..boleh ga?” Tanya gue ama tita sambil jilatin lehernya mulusnya. “hhmmm….boleh sayang…” jawab tita sambil mendesah nikmatin jilatan lidah gue. kayaknya dia udah horny banget. Pelan2 gue lepasin pengait branya yang kebetulan ada di depan, trus langsung gue lepasin bra yang tipis itu dari toketnya. Sekarang gue bisa liat dengan jelas toket tita yang benar2 montok en bulat itu. Kulit toketnya putih mulus dengan putingnya yang agak besar en membenjol berwarna coklat muda. Langsung aja gue jilatin toket tita yang menantang itu, putingnya gue isep2 sambil gue mainin pake lidah gue, sementara tangan gue tetap ngeremasin kedua pepaya montok di dadanya itu. “Aaahhhhh…….ssshhhh…bert…isep yang kuat sayang…” rintih tita manja sambil menggeliatkan tubuh seksinya, sementara tangannya ngeremas2 rambut gue. gue jadi makin nafsu dengar rintihan tita, gue isep lebih kuat lagi toketnya sambil gue sedot i rasakannya. “ooouuhhh…..terus isep lebih kuat sayang…sedot toket gue bert…ahhh….” Pinta tita lirih sambil menekan kepala gue kencang banget ke toketnya.

Gue masih asik nyedotin toket tita, sementara tangan kanan gue mulai ngelus2 memeknya yang masih ketutup ama celana dalam tipis yang udah basah kuyup ama lendir kenikmatan yang keluar dari memeknya. Pelan2 gue masukin tangan gue ke dalam celana dalamnya trus gue mainin jari gue di belahan memeknya yang udah becek banget sambil gue sodok2 dengan lembut. Tita langsung mengejang waktu memeknya gue korek2 pake jari telunjuk gue. “aaauuuhhh…geli bert…nakal banget sih lo…” tita merengek manja sambil ngelus2 rambut gue dengan mesra. Badannya yang seksi itu udah basah oleh keringat sehingga jadi keliatan mengkilat en bikin gue jadi tambah horny. Gue terusin mainin memek tita sambil mulut gue tetap melumat toketnya yang udah merah2 karena gue sedotin dengan kuat. “aaahhhh…sshhh…ahhhhh….” Tita mendesah2 lirih sambil menggoyangkan pinggulnya pelan2 ngikutin kocokan jari gue di dalam memeknya yang basah en hangat. Gue makin mempercepat kocokan jari gue di dalam memeknya ampe nimbulin bunyi “ceplak ceplak…” karena saking beceknya memek tita. “enak sayang..?” Tanya gue sambil ngecup putting toketnya yang udah keras banget. “uuhhmmm….ennaaakkk…ahhhh…enaaakkk…banggeeettt….aa ahhhh….shhh….” goyangan pinggul tita makin liar en ngak terkendali. Toketnya yang montok ikut berguncang2 en terasa menampar2 muka gue. Kayaknya dia udah terangsang berat en pasrah banget buat gue entotin. Akhirnya gue ngak tahan lagi, langsung aja gue buka celana panjang en cd gue sekaligus. Tita gue suruh jongkok trus langsung gue sodorin ****** gue yang udah tegang sempurna ke arah mulutnya. Tanpa di minta tita langsung ngelus2 ****** gue sambil di kocok2 dengan lembut. Ahhh….nikmat banget rasanya ****** gue di genggam ama tangan yang halus en hangat. “hmmm…****** elo gede banget bert…” desah tita sambil ngeliatin ****** gue dengan bernafsu. Pelan2 gue dorong kepalanya ke arah ****** gue. “isep ****** gue sayang…” kata gue sambil membelai rambutnya yang halus. Tita mulai jilatin kepala ****** gue pelan2, trus makin lama makin nafsu..di jilatinnya seluruh batang ****** gue, trus buah pelir gue juga di emut2..akhirnya dengan penuh nafsu di kulumnya ****** gue sambil di sedot2 kuat banget, kepalanya bergerak maju mundur dengan cepat di depan ****** gue. aahhh….gila nikmat rasanya ****** gue di sedotin ama mulut tita yang mungil. “ehhmmm….terus isep sayang, mainin pake lidah lo…” pinta gue ama tita. Tita makin liar en ganas ngisepin ****** gue. air liurnya ampe menetes membasahi wajah ama toketnya. Kayaknya dia suka banget ama ****** gue yang gemuk berurat en panjangnya 17 cm. Setelah beberapa lama akhirnya gue suruh tita nungging dengan tangannya menumpu di tembok, gue remas2 pantatnya yang bulat montok sambil gue jilatin memeknya biar basah lagi. “Ahhh….masukin sekarang sayang…please…gue pengen ****** elo bert…” rintih tita sambil menggoyangkan pantatnya. Tapi gue masih belum puas mainin memeknya, gue sedot2 memeknya sambil gue tusukin lidah gue ke dalam lubang memeknya yang hangat en berwarna merah muda itu. Tita makin tersiksa gue perlakukan kayak gini. “oouuhhh….bert…masukin ****** elo sekarang sayang…gue mohon…aaahhhh…ayo sayang……” pinta tita lirih banget karena menahan nafsu yang udah tinggi banget. Akhirnya pelan2 gue deketin ****** gue memeknya, gue gesek2in kepala ****** gue ke bibir memeknya yang udah basah kuyup itu, rasanya hangat en geli tapi nikmat banget. “hhmmm….ayo masukin sayang…” desah tita sambil memegang ****** gue en di bimbingnya ****** gue supaya masuk ke dalam memeknya. Pelan2 gue dorong ****** gue masuk ke dalam memeknya yang masih sempit itu. “oouhhh….pelan2 sayang….” Tita merintih kesakitan saat ****** gue mulai membelah memeknya. Gue peluk tubuhnya dari belakang sambil gue remas2 toketnya yang menggantung indah, gue ciumin leher belakangnya. “tahan ya sayang…ntar juga enak koq..” bujuk gue sambil mencium pipinya yang mulus. Setelah agak lama gue terusin menekan ****** gue ke dalam memek tita, sekarang udah berhasil masuk setengahnya. “ahhh….sakit bert..” rintih tita lirih. “dikit lagi sayang…tahan ya…” kata gue sambil berusaha masukin ****** gue lebih dalam lagi. “sleeeeppppp……..” akhirnya dengan satu sentakan kuat ****** gue berhasil masuk sempurna ke dalam memek tita yang masih perawan. Terasa memek tita berdenyut2 memijit ****** gue. “aaaaahhhhhhhh…..albert lo jahat ya…sakit sayang….” Jerit tita tertahan ampe kayak orang mau nangis. “tahan sayang…ntar lo pasti ngerasain nikmat…” bujuk gue sambil membelai2 rambutnya. Setelah tita agak tenang gue mulai mengocok ****** gue pelan2..gila nikmat banget rasanya ****** gue di jepit ama memek tita yang hangat, basah en kenyal..setiap gesekan benar2 terasa nikmat en membuat gue makin bernafsu. “ahhh…ahhh……ahhhhhhh……sshhhh…..ahhhh…desahan lirih tita mengiringi goyangan pantat gue yang semakin cepat. Kayaknya tita udah ngak merasa kesakitan lagi en mulai ngerasa nikmat. “ahhhh…..hhmmm…..ahhhhhh….” desahan tita makin kencang. Pantatnya sekarang ikut bergoyang en berputar mengikuti sodokan ****** gue di dalam memeknya. “enak khan sayang…?” Tanya gue sambil mempercepat sodokan ****** gue. “ahhh….iyaaaa….enaaaakkkkk beeerrtttt….teruusss sayanngggg….ahhhhh…****** elooo…enakkk bangeeetttt berttt…..” rintih tita manja sambil menggoyangkan pantatnya lebih cepat. Gue terus memacu ****** gue di dalam memek tita ampe akhirnya gue ngerasa udah mau ejakulasi. Tita juga kayaknya udah mau nyampe…”auhhhh….bert….gueee…pengeennn….pipiiissss… ..ahhh……”.
“ahhh….keluarin aja sayang…..” jawab gue sambil goyangin pantat gue makin liar.

“ ahhh…ahhhh…..bert….enaakkkkk….ahhhh….terus goyang yang cepet…ahhh….sayaanggg….aaahhhhh…..aahh….AAHHHHH….. ” tita mengerang erotis sambil menyentakan pantatnya dengan kuat ke arah ****** gue beberapa kali..terasa cairan orgasmenya yang hangat en kental menyembur kuat beberapa kali menyiram kepala ****** gue. memeknya terasa berdenyut2 en meremas2 ****** gue dengan kuat.

Gue terus memompa memek tita dengan kocokan yang semakin cepat ampe akhirnya gue ngerasa sperma gue udah di ujung ****** gue. cepat2 gue cabut ****** gue dari memek tita trus langsung gue kocok2 di depan wajah tita ampe akhirnya sperma gue muncrat banyak banget membasahi rambut, wajah, en toket tita. tita langsung masukin ****** gue ke mulutnya trus di isep en di jilatinnya sisa sperma di ****** gue ampe bersih..trus sperma yang nempel di wajahnya juga di ambilnya pake jari trus di jilatin dengan penuh nafsu. “hhmmm…sperma elo enak banget bert, gurih2 asin gitu..kapan2 gue mau lagi ya sayang…” pinta tita manja sambil ngelus2 ****** gue dengan mesra. Gue Cuma senyum aja karena baru aja ngerasain kenikmatan yang luar biasa. Aahhh…Gue puas banget *******in tita yang bertoket montok!

Belakangan gue baru tau dari cerita tita kalo dia dari dulu emank udah suka ama gue. udah gitu dia juga cewek yang punya nafsu seks tinggi..pantes aja dia ngak nolak waktu gue “perkosa”..hehe…sejak saat itu gue sering ******* ama tita tiap ada kesempatan.


Kekasihku Diperkosa Polisi

Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.

Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. “Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!” Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. “Wow, lihat dadanya.” Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.

Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.
“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!”
“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
“Betul kan, masih sempit sekali.”

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.
“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.
“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Vira tak bergeming.
“Buka!” bentak Sersan.
“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.

Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. “Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.” Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Saya keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!”
Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.
“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…”
“Aaahkk! Jangaaan!”
Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.
“Kalian boleh pergi.”
Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, “Jangan Pak, ampun Pak, sakit… ampuunn… sakiiit…”.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.